Forum Curhat Masyarakat


    Mitos Seputar Seluler

    Share

    susu_prno

    Posts : 1
    Join date : 2010-04-26

    Mitos Seputar Seluler

    Post  susu_prno on Mon Apr 26, 2010 11:34 am

    Meski telekomunikasi seluler telah menjamah Indonesia selama 15 tahun, namun masih sering ditemukan pemahaman keliru tentang jaringan nirkabel ini. Bukan hanya masyarakat awam, bahkan para pemilik gerai seluler pun ikut "melestarikan" mitos seputar seluler. Berikut ini beberapa mitos yang masih beredar di masyarakat.

    Mitos yang paling sering kita dengar adalah saat kita membeli ponsel baru, si penjual pasti berpesan: "Charge baterai selama delapan jam dan ponsel dalam keadaan mati atau nonaktif." Biasanya kita percaya saja. Faktanya, saran si penjual itu tidak tepat untuk masa kini. Dulu, mungkin saran itu benar, karena di masa lalu ponsel masih menggunakan baterai jenis NiCad yang waktu pengisian ulangnya relatif lama. Sekarang, ponsel telah menggunakan baterai jenis Lithium Ion (Li-ion) dan Lithium Polymer (Li-po) yang lebih canggih.

    Baterai zaman sekarang telah dilengkapi pemutus arus (battery charge controller), sebuah komponen kecil yang ditanam dalam baterai untuk menghentikan proses pengisian jika baterai dianggap telah penuh. Komponen ini juga terdapat pada beberapa merek adaptor charger. Rata-rata waktu pengisian ulang baterai Li-ion dan Li-po antara 1,5-3 jam. Jadi kalau kita me-charge baterai selama 8 jam seperti saran si penjual, percuma, karena arus listrik telah diputus secara otomatis oleh komponen dalam baterai.

    Dalam buku panduan dari semua merek ponsel pun tidak menganjurkan charging selama itu. Yang disarankan adalah baterai dihabiskan (dikuras), lalu diisi ulang hingga penuh.
    Lakukan hal itu selama tiga kali masa pengisian, agar kerja baterai bisa optimal.

    Saat mengisi ulang baterai, apakah ponsel harus dimatikan? Ini pertanyaan yang belum juga menemukan jawaban pasti, karena masih kontroversi. Para teknisi dan beberapa media memang menyarankan ponsel dimatikan. Namun di pihak lain, vendor tidak pernah menyarankan hal itu.

    Dalam realitas sehari-hari, kita tidak mungkin harus selalu mematikan ponsel saat men-charge baterai. Kita khawatir relasi tak bisa menghubungi kita karena ponsel sedang dimatikan. Lagi pula, bila sering mematikan-menghidupkan ponsel malah bisa memperpendek usia baterai.

    Mitos berikutnya, semua ponsel 3G bisa untuk video call. Persepsi ini tercipta karena pengaruh iklan operator seluler yang lebih mengedepankan kemampuan video call sejak layanan 3G masuk ke Indonesia tahun 2005 silam.

    Faktanya, tidak semua ponsel 3G bisa secara otomatis digunakan untuk video call.
    Beberapa tipe ponsel 3G tidak dilengkapi kamera sekunder sebagai syarat untuk video call.
    3G adalah teknologi layanan data berkecepatan tinggi (384 Kbps), sehingga kita bisa mengakses internet dengan lebih cepat bila dibanding menggunakan GPRS.

    Selanjutnya, mitos ponsel China gampang rusak. Faktanya, seperti halnya merek ternama, ponsel buatan China pun terbagi menjadi beberapa kelas. Ponsel kelas menengah atas tentu memiliki kualitas material lebih bagus dari ponsel kelas pemula.

    Saat ini mayoritas vendor ternama memproduksi atau merakit ponsel mereka di China, terutama untuk yang diedarkan di Asia. Pertimbangannya untuk menekan ongkos produksi. Selain itu China memiliki banyak pilihan pabrik perakitan ponsel. Ponsel canggih seperti iPhone pun dirakit di China, meski desainnya dikerjakan di California, Amerika. tongue

      Current date/time is Thu Dec 08, 2016 9:06 am