Forum Curhat Masyarakat


    Anak TK Dipaksa Belajar Calistung

    Share

    yo_or_no

    Posts : 1
    Join date : 2010-04-20

    Anak TK Dipaksa Belajar Calistung

    Post  yo_or_no on Tue Apr 20, 2010 11:50 am

    Akhir-akhir ini TK di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Batang memberikan berbagai les kepada anak didik. Ada TK yang memberikan les sempoa, membaca, menulis. Biasanya les diadakan setelah jam sekolah selesai, dengan durasi les sekitar satu jam.

    Para guru TK beranggapan, bila saat masih di TK anak didik sudah diajari membaca, menulis, dan berhitung (calistung) maka kelak ketika masuk SD sudah mahir. Padahal, mengajari calistung adalah tugas guru SD, bukan guru TK.

    Bukan hanya les, beberapa TK juga memberikan PR kepada anak didik. Bahkan sebuah TK di Kabupaten Batang pernah memberikan PR berhitung sebanyak 20 soal, layaknya anak SD.
    Pemberian PR pada anak TK, selain mengurangi waktu anak untuk bermain, juga membebani pikiran. Anak usia TK belum saatnya mengerjakan hal-hal yang menggunakan logika.

    Bagaimana tanggapan para orang tua/wali murid TK? Meski ada yang keberatan (karena ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan), mayoritas orang tua merasa senang dengan diberlakukannya bermacam les.

    Mereka sangat berharap anak mereka memiliki beragam keterampilan/keahlian ketika lulus dari TK kelak. Bahkan ada seorang wali murid yang berharap anaknya bisa menjadi anak jenius.
    Menyelenggarakan les bagi pengelola TK, dan juga bagi wali murid, telah menjadi arena meraih prestise/gengsi.

    Menurut modul Psikologi Perkembangan Anak (PPA) terbitan Universitas Terbuka (UT), diterangkan bahwa anak usia Balita (dalam konteks anak TK) belum mampu belajar secara formal.
    Mereka belum mampu untuk duduk diam serta mempertahankan perhatiannya pada suatu hal dalam waktu yang lama, seperti yang diharapkan (terjadi) pada anak di atas usia 6 tahun.

    Seharusnya bermain merupakan pekerjaan bagi anak usia TK. Melalui bermain mereka akan belajar tentang banyak hal dan melalui bermain, keterampilan anak akan berkembang, meliputi aspek fisik, motorik, kognitif, sosial, serta emosinya.

    Menurut Mayke Sugianto (modul 4 PPA, UT, 2008), proses pembelajaran yang dilakukan sambil bermain dan terarah akan memberikan hasil yang optimal dalam perkembangan anak, sehingga tidak ada lagi keluhan bahwa anak TK sudah dibebani kegiatan belajar yang tidak proporsional.

    Sedangkan Elkind dan Sutton-Smith mengingatkan agar jangan sampai terjadi miseducation, dimana anak-anak prasekolah (TK) diberikan kegiatan akademis yang terlampau abstrak.
    Sementara Jean Piaget menilai pada usia 3-6 tahun anak berada pada masa praoperasional. Pada masa ini anak sudah dapat berpikir dalam simbol, namun belum dapat menggunakan logika.

    Selain Piaget, ahli psikologi perkembangan anak lain seperti Sigmund Freud, Lev Vygotsky, dan Jerome Bruner juga menekankan pentingnya bermain sebagai bentuk pembelajaran pada anak TK. Sedangkan DE Papalia menyebut bermain sebagai urusan anak usia dini (the business of early childhood).

    Apakah anak TK boleh diajari berhitung? Menurut JH Flavell, kemampuan numerik atau berhitung merupakan salah satu kemampuan yang dipelajari anak secara otomatis dalam periode masa kanak-kanak. Otomatis, maksudnya, kemampuan numerik tidak harus diajarkan dengan waktu khusus seperti les. Melalui bermain maka secara alamiah anak akan menggunakan kemampuannya (dan bertanya) dalam berhitung.

    Pengajaran di TK harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua, sebab itu dapat berakibat buruk bagi si anak. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya.

      Current date/time is Thu Dec 08, 2016 9:08 am